Jaturampe

Beranda » Agama » Classroom (Sena Didi Mime) dalam Sebuah Reportase 1

Classroom (Sena Didi Mime) dalam Sebuah Reportase 1

Follow Jaturampe on WordPress.com

Waktu menunjukkan pukul 19.45. Cuaca cukup cerah, padahal siang tadi Kota Kudus diguyur hujan. Di pelataran aula, sepasang bangku penerima tamu sudah ditata rapi. Terdengar raung knalpot motor dan riuh suara calon penonton berjalan mulai berdatangan. Pada barisan para pejalan kaki, kukenali pula seniman-seniman senior yang rawuh. Pak Bambang Aceh dengan khas topi berwarna hijau dan jaket tebal, Farid Cah Koedoes serta Mas Widayat yang malam ini terlihat berpakaian kompak yakni dengan jaket kulit hitam dan syal yang setia menggelayut di dadanya. Sementara Dani dan Bung Kenyol Jurnjavasna tengah asyik bersalaman. Ya, tanggal 3 April 2015, Di Stikes Muhammadiyah Kudus seniman-seniman itu kembali bertemu.

dan

Bersamaan dengan detik yang melonjak-lonjak, suara merdu dari master of ceremony memanggil dan membujuk penonton untuk masuk. Rupanya pementasan bertajuk Classroom akan segera dimulai. Kami bersama penonton lain bergegas merangsak masuk. Ya, ini sungguh terbilang pertunjukan langka. Sena Didi Mime. Sebuah nama lama yang harum dan kerap kami dengar. Sebuah kelompok yang setia mengusung mime sebagai jalan nadi kreativitasnya.

Di ruang bagian dalam, kujumpai wajah kawan lama. Ia nampak gagah menenteng kamera. Warih Bayoung Wewe. Sempat kurabai -mukanya yang mulai membundar. Ada selarik kecemasan tersembunyi dari sudut matanya. Kemudian Mas Asa Jatmiko dengan atribut gelang yang membelit tangan, tengah sibuk lalu-lalang untuk mengurusi ini dan itu. Ada pula secarik kecemasan berpadu tiga perempat kegundahan. Maklum saja, lewat niat itikad dan tangan dingin tim mereka itulah, pertunjukan classroom dapat kami tonton di sini.

Kusapu lagi segenap ruang menghampar. Di tengah panggung, tampak membisu properti meja kursi tinggi. Apakah ini simbol dari satu classromm di ini negeri? Oh, sepertinya pertunjukan ini akan mengandung sejuta bius dan riuh tepuk penonton. Segera, aku menuju barisan depan, sebab tak ingin kulewatkan sedikitpun, deru ilmu yang nantinya kutemu. Sembari menyelonjorkan kaki, kubuka leaflet yang dibagi. Nah, betulkan apa yang tadi sempat kubatin? Aku menjumpai ilmu yang terkandung dalam synopsis pertunjukan Classroom.

“Di ruang kelas kita pernah duduk bersama dalam satu sejarah. Dan memperdebatkan soal, Kenapa kentut tidak dapat dihitung, padahal bias dibagi oleh seisi ruang?”

Ah, ini menarik bukan?

Bersambung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s