Jaturampe

Beranda » Gojek » Classroom (Sena Didi Mime) dalam Sebuah Reportase 3

Classroom (Sena Didi Mime) dalam Sebuah Reportase 3

Follow Jaturampe on WordPress.com

“Daya tangkap saya pada pementasan classroom ini kok seperti satuh adaptasi naskah Menunggu Godot milik Samuel Becket, ya Bro?” kata Ramdani membuyarkan konsentrasi. Satu pengamatan jeli penggiat teater yang kebetulan dari Jakarta tok-tok

“Ketoke kok memang ngono, Dan.” Jawab Farid Cah Kudus manggut-manggut

“Emang ada clue? Atau jangan-jangan, sampeyan mempunyai bocoran dari Mr. Goug, Dan” Sahutku

“Iya, Bung. Pertama dari banyaknya penggambaran dimana waktu sering digunakan untuk menunggu, kedua dari sajian pengisi ketika masa jemu tersebut, hanya pembedanya dipementasan Menunggu Godot adalah menunggu sebuah keadilan, sedang pada pertunjukan Classroom ini adalah menunggu kedatangannya Sang Guru yang tak pernah ada, Bro! Lha ini di pamlet jelas tertulis, nooh!

“Woo, iya ya, ehehehe!” Aku ngekek sembari membatin dan membenarkan, Oalah dasar awak ora jeli ngematke kertas pamlet’e

Terdengar gegap gempita suara tawa penonton menggoncang Gedung Stikes. Rupanya telah terjadi interaksi antar pemain dengan penonton. ‘Si Boy’ tengah mengulang kata-kata,kurang lebih seperti ini, “Makanya Boy, kamu jangan terlalu sering tidur di Kampus. Kalau selesai kuliah ya pulang ke rumah! Lha kamu tidak, pulang kuliah malah maboook! Oalah, memang lucu itu, terutama di pengulang kata mabok yang diintonasikan panjang. Duhai!

“Wah, ini apik, Mas! Deloken wae properti yang dipakai, itu benar-benar multiguna! Lha di ranah inilah sebagian seniman kudus kurang mengoptimalnya! Ya ta?” Kata Pak Bambang. Aku hanya mengangguk. Kucermati lagi pertunjukan di panggung tersebut. Ya, di saat Boy dan Ciprut sedang asyik berdialog, rupanya pemain lain berusaha melepas papan untuk kemudian dipasang di bagian lain serta cepat-cepat mengangkatnya. Abrakadabra! Meja kursi tinggi pun tersulap menjadi bentuk bangun lain. Gila, keren! Bel kelas kembali lantang berbunyi. Para pemain pun bergegas bangunan tersebut. Lengang. Sepi serta membatu. Sesekali Kenyol menawariku minuman kopi yang dibawanya dari Kota Lasem.

Malam merambat lambat namun bergerak makin larut. Kenangan, asa, sketsa serta mimpi tentang masa sekolahku dulu naik-turun, timbul dan tenggelam. Rupanya, kusadari kini, baterei ingatanku makin melemah, namun tak lantas menjadi nol. Yang benar-benar kuingat dari pertunjukan tadi adalah kata-kata yang berulang, yakni,

“Wengi-wengi ngene iki, enake lapo ya?Bobok enak! Loe enak punya bini, kalau gua? Lantas pemain lainnya menyahut, “Santai aja kali! Gila ye, gak ada otaknya! Aduh aku gak bisa!”

Patut kita acungi jempol dengan hafalan dari para pemain yang tekun berlatih, tapi sebentar…e..sebentar, sepertinya ada clue dari pertunjukan Classroom ini, tapi apa ya?

“Wengi-wengi ngene iki, enake lapo ya?Bobok enak! Loe enak punya bini, kalau gua? Lantas pemain lainnya menyahut, “Santai aja kali! Gila ye, gak ada otaknya! Aduh akuuu gak bisa!”

“Wengi-wengi ngene iki, enake lapo ya?Bobok enak! Loe enak punya bini, kalau gua? Lantas pemain lainnya menyahut, “Santai aja kali! Gila ye, gak ada otaknya! Aduh akuuuu gak bisa!”

Aha! Sketsa itu…uh, ya sketsa itu benar-benar ditancapkan oleh Sang Sutradara canda penuh makna meski berbalut canda. Gila, pertunjukan ini memang keren!

SDM

Dokumen foto diambil dari stok: Warih Bayu WeWe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s