Jaturampe

Beranda » 2016 » Januari

Monthly Archives: Januari 2016

Swara Tantu

12552930_10207089160419325_6117684755578006855_n

Aku masih berbaring

Menunggu pulanganmu

Meski senja

atau subuh yang terbuka

 

Dari terkaman rutin

Dari derita batin

Dari ancaman musim

 

Sebab kutahu

Kau spesies langka

Penjaga hutan

Pemikul luka-luka

 

Walau sesekali

aum dan hardikku

Kakukan waktu

Kerdilkan rindu

 

Ah..

Teruslah

Teruskan suaramu

Tulis kesetian dan cintamu

Karena itu janji

Yang kau buat

Ketika

Senja melambat

belum gelap

 

Aku

Masih setia

menunggumu…

di segenap rupa

Tantu

Fotografer: Warih Bayoung Wewe

 

Iklan

Reportase SwaTantu: Gedhog Budaya (2)

12592471_921792381201303_8767819966099543584_n

Lenggang senja berjalan lambat namun sangat tenang. Angin basah sesekali manja menyapa. Sebagai pembuka, rangkaian tari bali dibawakan apik oleh seorang pemudi. Disusul gegurit yang dipadu tembang macapat, hingga tak terasa magrib pun tiba. Berulang kali, Sri Kanti dan Nung Bonham rela berkeliling guna menawari rehat penonton sekedar bersembahyang atau menikmati sajian Lentog Kudus yang disediakan panitia. Untuk sejenak, acara dihentikan. Penonton segera bergegas untuk sholat, makan atau melanjutkan ngopi-ngopi. Bagaimana dengan SwaTantu? Sembari menunggu group music Jadul mengisi acara rehat, personil  SwaTantu mempersiapkan diri dengan segenap kontemplasi. Tampak Fahrizal Habibi mendengar beat lagu, Wisnu Jadi Dewa  mengelus jenggot , Yanuar Hape menyetem gitar hitamnya, sedang Kenyol Jurnjavasna asik mulai menata busana. Eh, Si Ommie mung guya-guyu di pojokan gardu. Dari arah Timur, tampak ada rombongan datang. Pak Thomas Budi, Asa Jatmiko, Yudhie MS beserta rombongan lalu duduk di depan panggung. Ah, bukankah ini satu acara keren, dimana banyak didatangi Begawan sastra dan seniman.

Renyah suara master of ceremony memanggil SwaTantu bersambut tepuk penonton yang mengiringi laju barisan muda menuju panggung. Beberapa rekan musisi tampak membantu personil SwaTantu menata panggung. Tiga kursi dijejer rapi sebelah kiri, kajoon warna di belakang, serta standmic di kanan panggung. Meski komposisi panggung sederhana tapi tampak elegan sebab seperti sudah dikelola dan dipersiapkan. Hampir bareng tiga standbook dipancang, petik gitar mulai disuarakan. Seperti ada puluhan mantera yang menggelantung di  pojokan panggung. Mendadak Farid Cah Kudus muncul dengan teknik pemunculan yang sungguh tak dinyana. Ia seperti mencari atau sekedar membaca lembaran halaman buku tanpa kata. Gerakan kepalanya memutar, naik-turun, sesekali menatap lembar-lembar kertas. Kemudian seniman ganteng ini berkata bak suara lusinan bebek dalam lingkar antrian*. Tatkala tak menemu kata yang dicarinya, Ia  mulai melemparkan kertas tersebut lembar demi lembar. Entah lembaran itu lembar kertas apa? Dari seberang panggung, vokalis SwaTantu mulai bernyanyi, kemudian disambung lantang suara Farid Cah Kudus yang membaca puisi,

“Di sini alam rakyat kami mencari makna

Hidup yang penuh harap

Pada kau pemimpin

Pada kau penguasa

Pada kau pengusaha

Ini kotaku selaksa peristiwa

Banjir tikus-tikus

Badai tipu-tipu”

.

*ketika penulis mengcross-cek pada Farid Cah Kudus, -suara-suara bebek yang dilantunkan tersebut didefinisikan sebagai suara-suara  rakyat mengambang sebab tidak didengar pemimpinnya-

Bersambung

Sumber Foto: Yos Fusdiantoro

Reportase SwaTantu: Gedhog Budaya

Meski hanya beberapa panitia, namun pelaksanaan Gedhog Budaya (Indonesia-Australisa) berjalan mulus serta lancar. Rinai hujan siang hari, jelas tak menyurutkan pelaksanaan acara tersebut. Ya, Sekitar 16.30 WIB, pemasangan lampu dan properti hampir selesai. Beberapa penampil pun mulai berdatangan. SwaTantu, Mameth Suwargo, Bontot, beberapa penari dari Blora, personil Sendhon, seniman-seniman luar kota serta musisi kawakan dari Kota Kudus mulai berdatangan. Limabelas menit berikutnya, Loan Just, John Logan pun datang. Mereka berdua memilih duduk di depan, ditemani beberapa orang guru dari SMA 1 Kudus. Sebagian besar dari seniman luar kota pun lebih memilih untuk menyandarkan diri di Gazebo belakang. Kadang-kadang terdengar suara tawa tergelak dari Gazebo tersebut. Rupanya sudah menjadi ritual, jika seniman-seniman berkumpul, yang terjadi adalah tawa membahana. Sri Kanti dan Nung Bonham yang menjadi motor dari acara ini, terlihat aktif menyambangi teman-temannya, sembari sesekali meminta maaf karena acara mundur.

Farid Cah Kudus bersama Warih Bayoung Wewe terlihat cekikikan di pojok halaman, bercanda ria bersama Pak Edi (pemilik Kampung Segeran-Olah-olah Kampung Seni), Tak lama kemudian hadir pula Pak Bambang Wid, S.Sen, seniman gaek yang terbiasa memakai topi dan berjaket semi militer. Ya, Beliau senantiasa hadir jikalau Farid Cah Kudus tampil entah sekedar membaca puisi, Monolog, maupun sekedar buang hajat. Keterkaiatan antara Beliau dengan Farid Cah Kudus, boleh dibilang pasangan antara jarik dan sepatu slop: Klop,banget!

Master of Ceremony mulai membuka acara, dengan kelihaian pronunciation yang lumayan menjual Ia mulai menyapa dua tamu dari Australia tersebut. Kemudian, Ia mulai membaca daftar acara. Ya, di hari Selasa, 19 Januari 2016, kurang lebih jam 17.00 WIB, salah satu gawe besar kesenian bertajuk Gedhog Budaya di Kota Kudus resmi digelar.

Bersambung

SwaTantu

Meski terbilang sebagai kelompok yang baru terbentuk, namun grup musik yang beranggotakan tujuh orang yakni, Ommie Monthie, Farid Cah Kudus, Wahyul Huda, Fahrizal Habibi, Yanuar HaPe, Yeny Jaturampe, serta Wisnu Dudu Dewa, sepakat menamainya kelompok ini dengan nama SwaTantu. SwaTantu adalah sebuah ikatan diri pada satu ikrar yakni semata berkarya. Kelompok yang personilnya merupakan campuran teaterawan, pantomime, musik, puisi serta tari.

Genre musik dari SwaTantu ini adalah kombinasi balada, musik eksperimental dipadu buai mantra, tuturan serta geliat gerak. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membawa suasana pertunjukan jadi indah dan penuh kejutan.

Personil SwaTantu
1. Ommie Monthie : Akustik Gitar, Vokal, Perform
2. Farid Cah Kudus : Aktor,Puisi, Performance Art
3. Wahyul Huda : Perkusi, kajoon
4. Fahrizal Habibi : Terompet, Harmonika, Seruling, Vokal, Maracas
5. Yanu HaPe : Elektrik Guitar, Vokal
6. Yeny Jaturampe : Vokal, Penari
7. Wisnu Dudu Dewa : Puisi, Performance Art

Ruwat SwaTantu

Uang…uang…uang…uang
Membangun sktsa diri setinggi gedung tinggi
Wewenang…wewenang…wewenang,
menang menang
Bermain kuasa dibalik angkuh dinginnya meja

Kau pikir uang
Jadi panglima
Bisa membaca
Sandi rahasia

Petani…petani bergerak di pagi buta
Merangsak merangkak berteman batubata
Menanam benih-benih, susah riang tawa
Berharap keringat tumbuh jadi seribu makna

Petaniku
Musisi hidup
Petaniku
Nyalakan alam
Petaniku
Tuang kan waktu
Petani

Swara: mata arti
Air : gerak rahasia

Jimat SwaTantu

Air adalah kebaruan
Mencari hari kita
Rupa
Senandung rindu
Api adalah hidup ini
Di dalam bekas pertaruhan
Kenang tenang, terjadi!

Bila kita saling bicara
Kita saling menjaga
Bersaksi

mari hadirkan nada
Membangun biru tugu
Kita senyapkan riang
Dirundung misteri, pelangi yang itu

Kita adalah gelisah
Merapuh di sudut ruang malam
Menjerit sekali-kali
Bila bercak merebus kenangan yang lalu
Coba bertahan, terus berjalan harus berjalan terus melawan
Coba bertahan, terus berjalan harus berjalan terus berahan, berjuanglah