Jaturampe

Beranda » jaturampe » Reportase SwaTantu: Gedhog Budaya (2)

Reportase SwaTantu: Gedhog Budaya (2)

Follow Jaturampe on WordPress.com

12592471_921792381201303_8767819966099543584_n

Lenggang senja berjalan lambat namun sangat tenang. Angin basah sesekali manja menyapa. Sebagai pembuka, rangkaian tari bali dibawakan apik oleh seorang pemudi. Disusul gegurit yang dipadu tembang macapat, hingga tak terasa magrib pun tiba. Berulang kali, Sri Kanti dan Nung Bonham rela berkeliling guna menawari rehat penonton sekedar bersembahyang atau menikmati sajian Lentog Kudus yang disediakan panitia. Untuk sejenak, acara dihentikan. Penonton segera bergegas untuk sholat, makan atau melanjutkan ngopi-ngopi. Bagaimana dengan SwaTantu? Sembari menunggu group music Jadul mengisi acara rehat, personil  SwaTantu mempersiapkan diri dengan segenap kontemplasi. Tampak Fahrizal Habibi mendengar beat lagu, Wisnu Jadi Dewa  mengelus jenggot , Yanuar Hape menyetem gitar hitamnya, sedang Kenyol Jurnjavasna asik mulai menata busana. Eh, Si Ommie mung guya-guyu di pojokan gardu. Dari arah Timur, tampak ada rombongan datang. Pak Thomas Budi, Asa Jatmiko, Yudhie MS beserta rombongan lalu duduk di depan panggung. Ah, bukankah ini satu acara keren, dimana banyak didatangi Begawan sastra dan seniman.

Renyah suara master of ceremony memanggil SwaTantu bersambut tepuk penonton yang mengiringi laju barisan muda menuju panggung. Beberapa rekan musisi tampak membantu personil SwaTantu menata panggung. Tiga kursi dijejer rapi sebelah kiri, kajoon warna di belakang, serta standmic di kanan panggung. Meski komposisi panggung sederhana tapi tampak elegan sebab seperti sudah dikelola dan dipersiapkan. Hampir bareng tiga standbook dipancang, petik gitar mulai disuarakan. Seperti ada puluhan mantera yang menggelantung di  pojokan panggung. Mendadak Farid Cah Kudus muncul dengan teknik pemunculan yang sungguh tak dinyana. Ia seperti mencari atau sekedar membaca lembaran halaman buku tanpa kata. Gerakan kepalanya memutar, naik-turun, sesekali menatap lembar-lembar kertas. Kemudian seniman ganteng ini berkata bak suara lusinan bebek dalam lingkar antrian*. Tatkala tak menemu kata yang dicarinya, Ia  mulai melemparkan kertas tersebut lembar demi lembar. Entah lembaran itu lembar kertas apa? Dari seberang panggung, vokalis SwaTantu mulai bernyanyi, kemudian disambung lantang suara Farid Cah Kudus yang membaca puisi,

“Di sini alam rakyat kami mencari makna

Hidup yang penuh harap

Pada kau pemimpin

Pada kau penguasa

Pada kau pengusaha

Ini kotaku selaksa peristiwa

Banjir tikus-tikus

Badai tipu-tipu”

.

*ketika penulis mengcross-cek pada Farid Cah Kudus, -suara-suara bebek yang dilantunkan tersebut didefinisikan sebagai suara-suara  rakyat mengambang sebab tidak didengar pemimpinnya-

Bersambung

Sumber Foto: Yos Fusdiantoro


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s