Jaturampe

Beranda » Agama » Bedane Wong Kudus lan Wong Kudu

Bedane Wong Kudus lan Wong Kudu

Follow Jaturampe on WordPress.com

“Waktu itu, banyak orang yang nyantrik di Bengkel Teater milik Rendra, Bung, termasuk saya, yah, meskipun hanya beberapa hari, tapi kenangan itu berasa masih membekas!“ Kata Farid Cah Kudus membuyarkan lamunan kami
“Iya, Bung Ommie, saya pun sempat ngendhon selama seminggu, di sana kami diajari untuk mencangkul di ladang, menanam lombok dan malam-malamnya terlibat diskusi pada hal yang seru sekali, dan khabarnya, hasil panen itu meruah dengan biji lombok yang benar-benar hot!” Timpal Pak Bambang Wid, sembari membuka kaos birunya.
“Itulah, dahsyatnya seniman, khususnya Rendra itu, Om. Bayangkan saja, komplek itu termasuk daerah tandus, kering lan angel tapi karena ketekunan dan ketelatenan menghasilkan panenan yang memuaskan! Memang, disitu, diajarkan bagaimana ketekunan dan kedisiplinan berkelindan dengan hidup itu sendiri, bagaimana belajar menghidupi diri sebelum menghidupkan apa yang dicintainya, menempa, berencana, mengolah dan menyinergikan alam dalam dan alam luar! Bayang, kelahiran bibit actor teater yang benar-benar berasal dari tanah dan air yang menghidupinya. Maka hot dari cengeh itu akan lebih berasa!” Sela Leo Katarsis
Rupanya malam -meskipun belum larut- makin gerah. Bukan sebab tema diskusi, namun barangkali karena kekangenan kami yang makin menggumpal untuk bersua dan bercengkrama. Sesekali tawa datang membahana, larut bersama kepulan asap yang turut mengudara.
“Oh, jadi begitu ya, bentuk perjuangan itu, Mas!” kata Habibi Pipi Cabi

“Begitulah Bro, dan barangkali hal itu yang menjadi batas antara generasi lalu dengan generasi sekarang!” kata Farid Cah Kudus
“Piye makdus eh maksude kuwi, Mas?” kataku makin tertarik
“Wong biyen leh panci ngono, menempa diri dengan maculi tanah yang dicintainya, mbanyoni lan milih bibit unggul njur ditandur nang plataran, njaga kanthi kebak rasa tresna asih sanajan ya kala-kala intho-intho karo nesu barang!”
“Ngene lho, Om, Si Farid Petenggeng, mbabar bedane kamu tani lan Wong Kudu!” kata Leo Katarsis
“Piye madkus eh makduse kuwi, Mas?” kataku benar-benar semakin tertarik
“Yang namanya petani itukan pelaku, panenan ataupun kegagalan merupakan hal biasa, kan? Bukan berarti begitu tidak panen, kemudian larut dalam ratap nasib yang karut-marut. Bangkit kemudian berdiri, bangkit untuk kerja, berdiri untuk berkarya. Dan kemandirian itu, menimbulkan mata nyala. Nyala sebab makna. Lain halnya dengan Wong Kudu. Kerjane mung adang-adang. Pas utawa ngepasi. Begitu menemu bagian yang menyaru lantas jadi ragu-ragu lalu sejenak abu-abu. Celakanya, begitu tidak bertemu momentum berdentum, ia lari dari tujuan hakikinya. Yah, tapi ya harap dimaklumi saja. Lha wong memang Wong Kudu.
“Adakah korelasinya antara Wong Kudu dengan Wong Kudus itu sendiri, Mas?” selaku
“Gau, ah!” jawab Leo Katarsis
“Yo wisss!” kataku manja
“Hya itu jenenge otak-atik gathuk, Bagong Petruk mangan cengkaruk, nang angkruk sinambi manthuk-manthuk, Ommie! Pegawean adang-andang randha budhal ronda” jawab Pak Bambang
“Tapi iki lho malah luwih enak, randha royal (tape goreng) asli sing digawa Wak Widayat, dudu randha bubar ronda!”
“Yo wisss!” kataku semangkin manja
Dan, kembali, kami terlibat dalam tawa yang benar-benar panjang, sepanjang angan, sepanjang kenangan akan gula-duka jagad per-teater-an itu sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s