Jaturampe

Beranda » 2016 » Mei

Monthly Archives: Mei 2016

Bukan Panggung Besar yang Kami Cari

Boleh jadi, sampeyan masih mengangankan panggung besar, tata dan sorot lampu yang menawan, dengan penonton berjubel menyambutkan. Sementara suara Master of Ceremony didukung sound system dengan suara membahana membelah malam yang terang benderang?

Tapi bagi kami, itu bukan pencarian lagi..

sebab titik pijak utawa adalah karya dengan balut rasa kekeluargaan yang tanpa motif. Semata karena cinta, semata karena buah hati yang bernama karya. Senang karena senang, bukan tendensi tiga tahun atau sepuluh tahun nantinya. Sebab, sebuah masa adalah masa, rahasia tetaplah rahasia.

Dan, hidup akan lebih indah dengan ruah makna hidup sebenarnya bukan?

DSC_0063

SwaTantu

So, silakan bangga dengan panggung besar yang terjadinya nantinya, dan kami tahu itu bisa jadi membanggakanmu. Tapi maaf, untuk kami, ruah makna dan karya adalah ukuran sebenarnya….

SwaTantu: Gerilya Lagi, Yuk!

anyar

Hari makin siang, mari kita bergandengan tangan, kita koyak nasib kita sendiri dengan tatapan tak kenal sangsi, sebab hidup itu adalah sebentuk perjuangan, sedang derita adalah biasa. Tantu…tantu, SwaTantu…

Roda Gerilya Berlanjut

Bukan gerilya kalau hanya sekali saja. Yup, barangkali filosofi inilah yang dianut kelompok SwaTantu ini. Dengan bekal seadanya, beaya yang benar-benar swadana, akhirnya tumbuh rencana untuk menggelar pertunjukan Roda Gerilya kembali.

Dan, penciptaan lagu pun bertambah, tidak tanggung-tanggung, dalam seminggu terkonsep dan tercipta lima lagu, dengan tema yang berlainan. Ada lagu dengan tema Kretek, Celengan Semar, Buat Karib dan lainnya.

iku

Kawan, mari kita hangatkan badan dengan ruah Roda Gerilya gerak karya, ! Awas, jangan ketisen. Tantu…Tantu, SwaTantu

SwaTantu: Roda Gerilya (Rahtawu)

Ada sebuah tarikan ghaib yang membuat kami membuat lagu tentangnya. Meski tentu saja ada sedikit rasa takut dalam membuat. Ya, sebuah gunung yang berada di sebelah Utara Kota Kudus itu memiliki magi, aura serta misteri yang kuat Rahtawu, demikianlah nama gunung Purba tersebut.

Dengan ketinggian sekitar 1.627 m dari permukaan laut, Rahtawu begitu memesona.  Puncak Songolikur. Jongring Saloka, beberapa petilasan diyakini dahulu memang benar-benar merupakan tempat bertapanya ‘Para resi’yang sering disebut penduduk sebagai sebutan Eyang.

Jelas ini tidak gemen-gemen, mengingat dan menimbang peta Kudus sendiri (jika terpisah dari kota lain) merupa dalam bentuk Semar bukan? Namun disitulah kami merasa perlu untuk mengabarkan sesuai dengan penangkapan kami.

Rahtawu, tempat berkumpulnya para Atma

yang merupa dalam dewa

Hayu hayu Rahtawu

Tawu tawu, Rahayu

Hayu hayuning buwana

Sluman slumun slamet

Luput nir sambikala

 

SwaTantu: Roda Gerilya (Detak Warung Jetak)

Seringkali ada banyak kejujuran justeru didapatkan di sebuah warung-warung kecil, gumaman maupun celotehan yang berkembang baik isu lokal maupun internasional, yang alami dan berkembang tanpa direkayasa. Warung sederhana yang berisi lima enam warga desa yang lugu.

Namun, percakapan di dalamnya acapkali tak dapat sangka. Percakapan kelas pinggiran namun mampu menanggapi persoalan-persoalan hidup. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami, serta mampu menyentuh dasar bumi hingga langit sekalipun.

Lagu ini terinspirasi secara tidakk sengaja ketika beberapa personil SwaTantu ngopi di daerah kulon kota Kudus. Tepatnya di daerah Jetak.

Di warung kopi inilah asal mula lagu Detak Warung Jetak.

SwaTantu: Roda Gerilya (Rindu Perawan pada Kaum Nelayan)

Lagu ini menceritakan tentang dialog maya antara Sang Perawan dengan Sang Nelayan. Si Perawan adalah wanita yang senantiasa tekun, sabar untuk menunggu kepulangan pujaannya meski muncul pula keragu-raguan yang hinggap. Jangan-jangan pujaannya ini lupa jalan pulang, jangan-jangan pujaannya ini nyangkut di kediaman janda  tetangga…ah, di ujung rembang petang, mbak nasib datang menyergap insan.

Sementara di belahan bumi lain, Nelayan yang menjadi pujaan Si Gadis, tengah bergulat dengan puluhan ombak menghadang. Ombak-ombak derita, ombak-ombak nestapa. Bergulung-gulung makin membesar…

Dan, sesaat sebelum ombak itu surut, sesaat sebelum malam datang, bayang perawan itu menjadi ibu, ya, pertiwi yang senantiasa membayang, menungggui kemudi..

Jalesveva Jayamahe

Jalesveva Jayamahe

SwaTantu: Roda Gerilya (Mangata)

Mangata merupakan definisi dari kata yang kurang lebih berarti bayangan bulan di air yang berbentuk seperti jalan. Satu fenomena alam yang indah bukan?Cahaya dari Sang Penerang malam yang terpantulkan lewat air. Ah, seperti sebuah masa gelap yang berkarat, gelap kesumat, gelap dalam pekat dapat penerangan sinarkan?

Sampeyan pernah mengalami masa seperti ini, Lik? Masa dimana apapun norma, macam pelajaran hingga senandung kebenaran menjadi hal yang hilang entah kemana, tatkala kebuntuan datang menyergap. Sangsi tak tahu kemana lagi? Terjebak di dunia entah, terkapar di kedalaman gua berantah?

Andai pun sampeyan melakukan hal-hal lugu seperti dalam buku panduan hidup yang harus sopan, santun,tapi malah tak diindahkan? Acapkali malah terinjak-injak? Lalu, kitapun kembali melihat buku panduan hidup, “Bagaimana hidup yang baik itu, bagaimana harmoni itu ya, bagaimana kebahagian itu di dapat ?” namun panduan tetap sama. Hitam atau putih. Surga atau neraka? Masuk atau keluar? dan belum jua puas?

Seperti kata Albert CamusManusia absurd di tengah dunia yang memang absurd– Goda itu akhirnya datang jua. Mula-mula, kering, sedikit basah, makin lama makin membasah. Suara-suara itu “Hei ayo, kamu bukan yang pertama kok,  yang melakukan ini banyak loh, ah, masak hanya segini sih, ayo ambil saja, tak ada yang tahu lho, ayolah kawan! Ah, toh bukan kamu yang melakukannya? Suara merayu penuh jebakan, bukan?

Namun, tetap saja ada yang datang menyergap. Bayangan bulan dalam yang merupa sebuah jalan, suara-suara itu “Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake!” sesanti dari Sang Mandhor Klungsu -RMP Sasra Kartono-

Untuk mengabadikan petuah RMP Sasra Kartono hingga betapa bermaknanya penemuannya tersebut, kami menciptakan lagu yang berjudul Mangata