Jaturampe

Beranda » Gerilya » Roda Gerilya di Rumah Sang Pendiri Kuncup Mekar

Roda Gerilya di Rumah Sang Pendiri Kuncup Mekar

Follow Jaturampe on WordPress.com

Tepat jam 19.00 WIK, personil SwaTantu yang kembali bergas -setelah buka puasa di rumah Wak Widayat- mulai berdiri. Segera, dengan komando tuwaga dari Farid Cah Kudus -pimpinan Swatantu- kami bergegas menuju kediaman Pak Aryo Gunawan. Sejumlah peralatan gerilya telah dipersiapkan ditata.  Gitar akustik, elektrik, bass, jimbe, floor tom serta backsound kecil-kecilan  menjadi teman setia dalam bergerilya. Ngengggg…..cuitttts, melajulah roda, bergeraklah langkah gerilya..

Ya, di rumah itu, rumah yang mempunyai seribu kenang kegiatan, masih berdiri dengan kokoh.  bentuk frekuensi abadi di tiang-tiang bercat coklat seolah berputar kembali. Pembuatan naskah teater, latihan membuat puisi, cara baca puisi, monolog, musik, serta beragam tema diskusi. Ah…

“Masuk!”  suara berat itu tiba-tiba mengalun di antara kesunyian. Lalu, kami semua menyalami beliau yang tampak jauh lebih sehat dibanding pertemuan terakhir sekitar enam bulan lalu. Badannya yang semula kurus kering mulai kembali ke warna kuning. Kilat mata dan praupan bersih masih ada di sana. “Ya…ya, silakan ditata dimana saja, mas, Pakai saja apa-apa yang hendak dipakai! Kata beliau dengan bariton suaranya.

“Inggih, siap, mas Aryo!” jawab sang komandan SwaTantu. Dengan sigap kami mulai menyeting tempat dengan menggunakan kursi dan meja. Warih Bayoung Wewe pun mengeluarkan piranti lampunya yang semakin hari makin aduhai. Acik, Kenyol, saya, Rizal dan Yanu mengambil perlatan gerilya, sementara Sang Komandan berdiri mengamati tiap inchi untuk mengambil sisi posisi. Kurang dari tigapuluh menit, jadilah panggung gerilya.

13487857_120300000019881123_1567502292_n

“Ahhaiii, Cak Pete, selamat datang!” tiba-tiba Farid Cah Kudus setengah berteriak menyambut kedatangannya, maklum saja Cak Pete merupakan sosok sahabat sekaligus tukang setting andalan para seniman Utara. Tak lama kemudian, datang pula Leo Katarsis, seniman eksentrik yang senantiasa energik. Juntai rambut gondrong setengah dikuncir, melambai-lambai bak gurunya Jacky Chan di film Drunken Master. “Rupanya kalian sudah siap untuk bergerilya ya? bagus aku suka akan semangat kalian!” kata Leo menyemangati kami!

Dan segera ku pamit pulang sebentar untuk menjemput sang biduan. Maka, berputarlah roda-roda, melangkahlah langkah gerilya dalam tantu…tantu Sisyphus…

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s