Jaturampe

Beranda » filsafat » Ikhtisar 2016 dari Mbah Darma

Ikhtisar 2016 dari Mbah Darma

Follow Jaturampe on WordPress.com

kakek-tua   Kaget juga, sore hari dapat kunjungan dari Mbah Darma, lelaki berusia lebih dari enam puluhan, tapi meski tua semangat dan pikirannya masih membumi,  emoh nglokro, kreatif walau cenderung nakal. Ahaaiii, Mbah Darma yang di kampung terkenal katokan congkrang, kaos triple five dan tetap keranjingan untuk berkelana antar desa dalam provinsi, Ih…

“Piye, hari-harimu, penuh dengan kerokan ataukah tualangan, Le? Sapa Mbah Darma dengan deret ggi rata khas generasi empat lima. Pangurrrr berjamaah…oh

“Ya, ajeg Mbah, rata membahana, dalam genggam rutinitas tiada dua” Jawabku masih mencoba menerka diskusi apa yang hendak Mbah Darma bangun.

“Oalah, padahal kedatanganku kemari hendak mempertanyakan, ringkasan apa yang hendak kau tulis di blogmu nanti, tahu sendiri tahun kemarin engkau bersama kesontoloyaanmu berhasil merangkum tahun 2014 dan tahun 2015 sebagai tahun lelaki, ciah…bocah kemplu, mbedhul nanging iya rada isa maca!” kata Mbah Darma setengah nge-rap

“Hee(mecengis bayem adem), kula boten mangertos, pendapat Panjenengan itu termasuk pujian ataukah jenis sarkasme, Mbah, tapi terus terang bacaan saya akhir tahun ini kok gelap, entah sebab tiada lilin atau malah terlalu banyak sinar merkuri, ngeri-teri bothok sambel, nehik di angka tiga belas, Mbah!” jawab sekenaku saja

Tampak dahi Mbahe mengerut, tapi hanya sekitar lima detik, perlahan namun pasti (halah kaya mlayune flashdisk) wae, ia memamerkan sederet gigi ratanya kembali, ough…panguuurrr  maneh, Beroo..

“Trembelane, katiwasan bar saka Banyu Biru aku mampir mrene, tibak’e nul prutul kaya iwak tunul, mosok blas ora ana kesimpulan setitik wae ta? (diam sejenak) tah perlu tak pompa iki?” kata Mbah Darma penuh selidik

“Sumangga kemawon, Mbah, kula ngestokaken dhawuh, tok..terotog..tog..tog..tog” jawabku sembari ndudut sabatang rokok.

“Wah, amatanmu kurang jeli, Le, tapi jan-jan bener kandamu kae, bahwa rong taun kepungkur tahune manungsa kang nglanangi, bahkan tumekan nganti saiki, nanging, (berdehem tiga kali) khususon taun sangar iki, kabeh berakhiran panJalukan ngapura! Masak kowe lali kasus aHokya Jakarta 51, masak kowe lali EfPeQ, mosok ora ngerti masalah Sutisna Dora Natali? piye ta?” kata Mbahe seperti penyiar tipi

Dalam hati yang kubangun agar senantiasa sebening embun pagi, aku membenarkan perkataan Mbahe, tapi sepertinya ada yang kurang, apa ya? Oalah beibeh, eng..ing…enggggggggg

“Lhoh, Mbah, mbahhh, contoh-contoh di atas banyak yang betul, tetapi mosok EfpeQ pernah meminta maap sih? Ih?

“Ya, yang meminta maaf ya saudara-saudaranya se-tanah air, ta! Jawab mbahe sembari terkekeh enggan berhenti!

Ampuuuuuutttt!

Daftar Bacaan Wajib Senator USA

  1. Indonesia dalam Lodeh dan Janganan
  2. Deru Padang Pasir antara Semangat dan Ancaman
  3. Aku Muak dengan Islam Garis Keras

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s