Jaturampe

Beranda » jaturampe

Category Archives: jaturampe

Punk Kuwi Pakanan Apa?

Jan-jane, Punk’s kuwi apa sih, Lik? Apa dan bagaimana hakikatnya? Sepertinya tampilannya kok, nggilani?” seloroh Wagiyah sedikit resah

Ah, jika kau resah begitu, tampak seperti mawar yang sedang merekah Giyah, lagian kok tumben lho kamu tonya-tanya pada Lik Januri? Kata Kasmudik sambil menyedot rokoknya. Kemudian dipandanginya muka Lik Januri dan mengangkat alisnya untuk menyiratkan agar Lik Januri segera menjawab pertanyaan Wagiyah

“Setau saya, Punk itu sekumpulan muda-mudi yang berikrar pada slogan DIY, Ginah? Do It Your self! Yah, memang untuk anak-anak punk di sini, kenalnya punk ya sebatas fashion atau mung aliran musik, yang tidak mainstream dan bedigasan, namun entah untuk ukuran spiritnya!” Jawab Lik Januri mriyayeni

“O, begitchu ya, Lik!” tapi tumindhaknya itu lho, Lik! Keta-kete sajak ora tedhas tapak paluning pande! Malah kepara rambut digawe skin? Ambu awak rada bacin, wedyan, Cuinn!” Kata Wagiyah

“Hahaha, ya begitulah Giyah. Tapi harap kamu tahu lho, banyak ragam komunitas punk itu. Ada yang bergenre Nazi Punk, Glam Punk, Anarki Punk, Belfast Punk, Scum Punk serta Oi Punk (jalanan) deelel. Nah, mereka masing-masing mempunyai ciri dan gaya. Barangkali yang pernah kamu lihat itu komunitas punk yang berkodekan Oi Punk tersebut. Ya, mereka memang lebih berani berekspresi dengan tampilan dirinya. Skinhead, sepatu boot atawa converse maupun sneaker, Hehehe, tapi harap ingat lho komunitas punk berjenis Glam Punk. Komunitas ini terdiri dari beragam seniman, serta kerja kreativitaslah yang senantiasa diagungkan. malah, mereka acapkali menghindari perselisihan dengan siapapun! Intinya ya spirit DIY, mandiri dan berkarya!” jawab Lik Januri dengan beberapa hela dan tarikan napas
“Oalah, mekaten ta? Kata pungki dengan satu mata penuh binar

“Kamu tertarik ya, Ki? Kalau iya, tuh Tanya Dul Jaturampe, barangkali ia mempunyai referensi-referensi! Kojah Kasmudik tiba-tiba

“Aha, kok aku malah dibawa-bawa sih? Tapi gak apa-apa wis, yen beneran kamu pingin tahu, Punk. Baik, nih aku rekomendasikan film tentang Hilly Kristal yang dikenal sebagai buapaknya Punk. Ia mendirikan CBGB. Ya, satu venue dimana para dedengkot musik punk bermain di sana. Tak kurang, Ramones, Mink Deville, Talking Heads, Tuff Darts, The Shirts, The Heartbreakers, The Fkeshtones, Sex Pistol, The Police, Green Day, serta barisan musisi punk angkatan pertama bermain di sana. Saya kok menduga nama Hillari Kristal akan abadi bersama dengan kata anarchi. Positif! Yang kedua adalah film berjudul Good Vibration. Sebut movie yang berkisah tentang bapaknya musik punk di Belfast, Irlandia Utara. Siapa lagi kalau bukan Terry Hooley. Woooh, beliau sangat berwibawa, murah senyum dan prinsipnya itu lhoh, sangat punk habis mesti tidak berambut skinhead. Ku yakin jika sampeyan menonton film-film tersebut, pendapat sampeyan tentang Punk bisa berubah!” jawabku dengan semangat

“Oalah, begitu ta, Mas, lha emange selain DIY, prinsip-prinsip punk itu apa sih, dan bukanya sampeyan itu aliran balada, ta, hakok ngerti punk beserta pilosopinya?” kata punki dengan dua mata penuh binar

“Haha, tonton saja filmnya dulu, ntar kita berdiskusi lagi! Tapi cluenya adalah Do it youself, berbagi dan berkreasi. Walaupun sampeyan tidak punk pun sampeyan termasuk punk jika melakukan itu tadi, hahaa, dan dengarkan saja lagu berjudul Laugh at me milik Sonny Bono, lagu balada yang menjadi lagu klasik kaum punk tua! Kataku sok bijaksana

Wualuahh!

Kembang Setaman 28/4/2017

Iklan

Roda Gerilya di Rumah Sang Pendiri Kuncup Mekar

Tepat jam 19.00 WIK, personil SwaTantu yang kembali bergas -setelah buka puasa di rumah Wak Widayat- mulai berdiri. Segera, dengan komando tuwaga dari Farid Cah Kudus -pimpinan Swatantu- kami bergegas menuju kediaman Pak Aryo Gunawan. Sejumlah peralatan gerilya telah dipersiapkan ditata.  Gitar akustik, elektrik, bass, jimbe, floor tom serta backsound kecil-kecilan  menjadi teman setia dalam bergerilya. Ngengggg…..cuitttts, melajulah roda, bergeraklah langkah gerilya..

Ya, di rumah itu, rumah yang mempunyai seribu kenang kegiatan, masih berdiri dengan kokoh.  bentuk frekuensi abadi di tiang-tiang bercat coklat seolah berputar kembali. Pembuatan naskah teater, latihan membuat puisi, cara baca puisi, monolog, musik, serta beragam tema diskusi. Ah…

“Masuk!”  suara berat itu tiba-tiba mengalun di antara kesunyian. Lalu, kami semua menyalami beliau yang tampak jauh lebih sehat dibanding pertemuan terakhir sekitar enam bulan lalu. Badannya yang semula kurus kering mulai kembali ke warna kuning. Kilat mata dan praupan bersih masih ada di sana. “Ya…ya, silakan ditata dimana saja, mas, Pakai saja apa-apa yang hendak dipakai! Kata beliau dengan bariton suaranya.

“Inggih, siap, mas Aryo!” jawab sang komandan SwaTantu. Dengan sigap kami mulai menyeting tempat dengan menggunakan kursi dan meja. Warih Bayoung Wewe pun mengeluarkan piranti lampunya yang semakin hari makin aduhai. Acik, Kenyol, saya, Rizal dan Yanu mengambil perlatan gerilya, sementara Sang Komandan berdiri mengamati tiap inchi untuk mengambil sisi posisi. Kurang dari tigapuluh menit, jadilah panggung gerilya.

13487857_120300000019881123_1567502292_n

“Ahhaiii, Cak Pete, selamat datang!” tiba-tiba Farid Cah Kudus setengah berteriak menyambut kedatangannya, maklum saja Cak Pete merupakan sosok sahabat sekaligus tukang setting andalan para seniman Utara. Tak lama kemudian, datang pula Leo Katarsis, seniman eksentrik yang senantiasa energik. Juntai rambut gondrong setengah dikuncir, melambai-lambai bak gurunya Jacky Chan di film Drunken Master. “Rupanya kalian sudah siap untuk bergerilya ya? bagus aku suka akan semangat kalian!” kata Leo menyemangati kami!

Dan segera ku pamit pulang sebentar untuk menjemput sang biduan. Maka, berputarlah roda-roda, melangkahlah langkah gerilya dalam tantu…tantu Sisyphus…

 

Roda Gerilya Berlanjut

Bukan gerilya kalau hanya sekali saja. Yup, barangkali filosofi inilah yang dianut kelompok SwaTantu ini. Dengan bekal seadanya, beaya yang benar-benar swadana, akhirnya tumbuh rencana untuk menggelar pertunjukan Roda Gerilya kembali.

Dan, penciptaan lagu pun bertambah, tidak tanggung-tanggung, dalam seminggu terkonsep dan tercipta lima lagu, dengan tema yang berlainan. Ada lagu dengan tema Kretek, Celengan Semar, Buat Karib dan lainnya.

iku

Kawan, mari kita hangatkan badan dengan ruah Roda Gerilya gerak karya, ! Awas, jangan ketisen. Tantu…Tantu, SwaTantu

SwaTantu: Roda Gerilya (Rahtawu)

Ada sebuah tarikan ghaib yang membuat kami membuat lagu tentangnya. Meski tentu saja ada sedikit rasa takut dalam membuat. Ya, sebuah gunung yang berada di sebelah Utara Kota Kudus itu memiliki magi, aura serta misteri yang kuat Rahtawu, demikianlah nama gunung Purba tersebut.

Dengan ketinggian sekitar 1.627 m dari permukaan laut, Rahtawu begitu memesona.  Puncak Songolikur. Jongring Saloka, beberapa petilasan diyakini dahulu memang benar-benar merupakan tempat bertapanya ‘Para resi’yang sering disebut penduduk sebagai sebutan Eyang.

Jelas ini tidak gemen-gemen, mengingat dan menimbang peta Kudus sendiri (jika terpisah dari kota lain) merupa dalam bentuk Semar bukan? Namun disitulah kami merasa perlu untuk mengabarkan sesuai dengan penangkapan kami.

Rahtawu, tempat berkumpulnya para Atma

yang merupa dalam dewa

Hayu hayu Rahtawu

Tawu tawu, Rahayu

Hayu hayuning buwana

Sluman slumun slamet

Luput nir sambikala

 

SwaTantu: Roda Gerilya (Detak Warung Jetak)

Seringkali ada banyak kejujuran justeru didapatkan di sebuah warung-warung kecil, gumaman maupun celotehan yang berkembang baik isu lokal maupun internasional, yang alami dan berkembang tanpa direkayasa. Warung sederhana yang berisi lima enam warga desa yang lugu.

Namun, percakapan di dalamnya acapkali tak dapat sangka. Percakapan kelas pinggiran namun mampu menanggapi persoalan-persoalan hidup. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami, serta mampu menyentuh dasar bumi hingga langit sekalipun.

Lagu ini terinspirasi secara tidakk sengaja ketika beberapa personil SwaTantu ngopi di daerah kulon kota Kudus. Tepatnya di daerah Jetak.

Di warung kopi inilah asal mula lagu Detak Warung Jetak.

SwaTantu: Roda Gerilya (Rindu Perawan pada Kaum Nelayan)

Lagu ini menceritakan tentang dialog maya antara Sang Perawan dengan Sang Nelayan. Si Perawan adalah wanita yang senantiasa tekun, sabar untuk menunggu kepulangan pujaannya meski muncul pula keragu-raguan yang hinggap. Jangan-jangan pujaannya ini lupa jalan pulang, jangan-jangan pujaannya ini nyangkut di kediaman janda  tetangga…ah, di ujung rembang petang, mbak nasib datang menyergap insan.

Sementara di belahan bumi lain, Nelayan yang menjadi pujaan Si Gadis, tengah bergulat dengan puluhan ombak menghadang. Ombak-ombak derita, ombak-ombak nestapa. Bergulung-gulung makin membesar…

Dan, sesaat sebelum ombak itu surut, sesaat sebelum malam datang, bayang perawan itu menjadi ibu, ya, pertiwi yang senantiasa membayang, menungggui kemudi..

Jalesveva Jayamahe

Jalesveva Jayamahe

SwaTantu: Roda Gerilya (Mangata)

Mangata merupakan definisi dari kata yang kurang lebih berarti bayangan bulan di air yang berbentuk seperti jalan. Satu fenomena alam yang indah bukan?Cahaya dari Sang Penerang malam yang terpantulkan lewat air. Ah, seperti sebuah masa gelap yang berkarat, gelap kesumat, gelap dalam pekat dapat penerangan sinarkan?

Sampeyan pernah mengalami masa seperti ini, Lik? Masa dimana apapun norma, macam pelajaran hingga senandung kebenaran menjadi hal yang hilang entah kemana, tatkala kebuntuan datang menyergap. Sangsi tak tahu kemana lagi? Terjebak di dunia entah, terkapar di kedalaman gua berantah?

Andai pun sampeyan melakukan hal-hal lugu seperti dalam buku panduan hidup yang harus sopan, santun,tapi malah tak diindahkan? Acapkali malah terinjak-injak? Lalu, kitapun kembali melihat buku panduan hidup, “Bagaimana hidup yang baik itu, bagaimana harmoni itu ya, bagaimana kebahagian itu di dapat ?” namun panduan tetap sama. Hitam atau putih. Surga atau neraka? Masuk atau keluar? dan belum jua puas?

Seperti kata Albert CamusManusia absurd di tengah dunia yang memang absurd– Goda itu akhirnya datang jua. Mula-mula, kering, sedikit basah, makin lama makin membasah. Suara-suara itu “Hei ayo, kamu bukan yang pertama kok,  yang melakukan ini banyak loh, ah, masak hanya segini sih, ayo ambil saja, tak ada yang tahu lho, ayolah kawan! Ah, toh bukan kamu yang melakukannya? Suara merayu penuh jebakan, bukan?

Namun, tetap saja ada yang datang menyergap. Bayangan bulan dalam yang merupa sebuah jalan, suara-suara itu “Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake!” sesanti dari Sang Mandhor Klungsu -RMP Sasra Kartono-

Untuk mengabadikan petuah RMP Sasra Kartono hingga betapa bermaknanya penemuannya tersebut, kami menciptakan lagu yang berjudul Mangata