Jaturampe

Beranda » Kesenian

Category Archives: Kesenian

Iklan

Seniman Kudus di Visualisasi Dandangan

Semaraknya persiapan para Seniman Kudus yang bekerjasama dalam acara Visualisasi Dandangan, 2018 tak kurang seratusan lebih pelaku seni terlibat

 

a1

c

20180516_112950

mIMG-20180517-WA0008

Semoga kebersamaan ini berlanjut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Reportase Stupa#2

we2

Nampak trio vespa (Ariz, Joko, Bro Ubrut) dari Desa Jepang mulai datang dengan dandanan retro khas mereka. Pemuda Desa Jurang (Teater Gatang) serta kawan-kawan Kanzu juga hadir. Kurang dari jam 20.00 WIB, acara dibuka oleh moderator. Yup, sengaja dalam Stupa, Master of Ceremony tetap Usturroid, yang masih belia dengan harapan agar menempanya untuk senantiasa belajar diksi sekaligus belajar beragam seni (secara tak langsung) sebelum memoderatori acara. Pembukaan beserta doa pun dilantunkan, maka secara sah Stupa#2 dengan judul “Kesenian untuk Apa dan untuk Siapa” dibuka…

Narasumber pertama adalah sang tuan rumah. Berkopiah hitami, baju batik warna coklat serta hitam sarung, Dengan pose kesukaannya (sedikit miring –entah ke kanan, atau ke kiri) Mas Leo mulai menata duduk dan berkata, “Semoga Stupa ini, menjadi satu bentuk ikatan kekerabatan kita selaku makhluk Tuhan dan makhluk social. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang beragama, berbudaya, berilmu pengetahuan, sekaligus berkesenian. Secara mendasar, hampir semua manusia dibekali Tuhan dengan perasaan seni, namun dalam pengejawantahan kehidupan sehari-hari dapat dikategorikan dengan pelaku seni, penikmat seni. Ya, alam dapat dinikmati berupa-rupa, semua bisa merasakan keindahan. Misalnya melihat senja dengan warna saga, memburat di barat. Peristiwa tersebut bisa jadi dianggap biasa, atau sekedar dinikmati, namun bisa juga dibuat bahan perenungan sehingga muncul gagasan yang diwujudkan dalam karya berupa seni rupa, seni musik, tari, teater atau lainnya. Lalu untuk apa? Tentu saja untuk manusia itu sendiri pula untuk masyarakatnya. Sebagai makhluk budaya, ia akan mengolahnya, menjadi sebentuk upacara, dengan harapan, semua yang hadir diperayaan ataupun upacara tersebut menjadi tercerahkan. Bukankah salah satu fungsi seni adalah menghaluskan perasaan maupun perilaku? Ya..Saya percaya, kegiatan seni erat berhubungan dengan sisi religiusitas seseorang, Karya seni apapun, hampir dipastikan akan melalui sebuah perenungan, tapi berkenaan dengan bagus atau tidaknya hasil tersebut itu merupakan teknis, dan berbanding lurus dengan permenungannya.

Aristoteles mengatakan (dalam dua karyanya, baik Politics dan Poetics. Dalam Politics, Aristoteles menyebutkan bahwa seseorang yang mengalami perasaan memilukan atau ketakutan akan mengalami katarsis dengan cara mendengarkan lagu-lagu sakral, dengan begitu, ia akan merasa dipulihkan, kemudian diperkuat dalam buku keenam, Poetics, yang menyebutkan bahwa Tragedi (Drama Yunani Kuno) menirukan perasaan pilu dan takut, dengan demikian Tragedi akan meng-katarsis emosi tersebut. Ya…selain melalui agama, manusia diharapkan mendapatkan pencerahan, permenungan atau katarsis diri melaui seni. Setelah menemukan tokolan tersebut, Sang Seniman itupun akan berusaha mengabarkan pada lingkup terkecil maupun pada masyarakatnya. Bukankah salahsatu fungsi seni itu adalah harmoni?” kata Mas Gunadi dengan khas suara berat dan dalam

Lantunan Joan Baez menggema sepenuhnya dalam hati sepertinya menambah malam makin berisi…duhai
May God bless and keep you always
May your wishes all come true
May you always do for others
And let others do for you
May you build a ladder to the stars
And climb on every rung
May you stay forever young.

May you grow up to be righteous
May you grow up to be true
May you always know the truth
And see the lights surrounding you
May you always be courageous
Stand upright and be strong
And may you stay forever young.

Forever young, forever young
May you stay forever young.
Bersambung..

Sajian Seniman Kudus

Genap satu bulan berdiskusi mengenai hubungan intim manusia Jawa dengan Semar, maka terciptalah komposisi musik berjudul Janggan Semarasanta https://youtu.be/WRI2P07fQDI

Punk Kuwi Pakanan Apa?

Jan-jane, Punk’s kuwi apa sih, Lik? Apa dan bagaimana hakikatnya? Sepertinya tampilannya kok, nggilani?” seloroh Wagiyah sedikit resah

Ah, jika kau resah begitu, tampak seperti mawar yang sedang merekah Giyah, lagian kok tumben lho kamu tonya-tanya pada Lik Januri? Kata Kasmudik sambil menyedot rokoknya. Kemudian dipandanginya muka Lik Januri dan mengangkat alisnya untuk menyiratkan agar Lik Januri segera menjawab pertanyaan Wagiyah

“Setau saya, Punk itu sekumpulan muda-mudi yang berikrar pada slogan DIY, Ginah? Do It Your self! Yah, memang untuk anak-anak punk di sini, kenalnya punk ya sebatas fashion atau mung aliran musik, yang tidak mainstream dan bedigasan, namun entah untuk ukuran spiritnya!” Jawab Lik Januri mriyayeni

“O, begitchu ya, Lik!” tapi tumindhaknya itu lho, Lik! Keta-kete sajak ora tedhas tapak paluning pande! Malah kepara rambut digawe skin? Ambu awak rada bacin, wedyan, Cuinn!” Kata Wagiyah

“Hahaha, ya begitulah Giyah. Tapi harap kamu tahu lho, banyak ragam komunitas punk itu. Ada yang bergenre Nazi Punk, Glam Punk, Anarki Punk, Belfast Punk, Scum Punk serta Oi Punk (jalanan) deelel. Nah, mereka masing-masing mempunyai ciri dan gaya. Barangkali yang pernah kamu lihat itu komunitas punk yang berkodekan Oi Punk tersebut. Ya, mereka memang lebih berani berekspresi dengan tampilan dirinya. Skinhead, sepatu boot atawa converse maupun sneaker, Hehehe, tapi harap ingat lho komunitas punk berjenis Glam Punk. Komunitas ini terdiri dari beragam seniman, serta kerja kreativitaslah yang senantiasa diagungkan. malah, mereka acapkali menghindari perselisihan dengan siapapun! Intinya ya spirit DIY, mandiri dan berkarya!” jawab Lik Januri dengan beberapa hela dan tarikan napas
“Oalah, mekaten ta? Kata pungki dengan satu mata penuh binar

“Kamu tertarik ya, Ki? Kalau iya, tuh Tanya Dul Jaturampe, barangkali ia mempunyai referensi-referensi! Kojah Kasmudik tiba-tiba

“Aha, kok aku malah dibawa-bawa sih? Tapi gak apa-apa wis, yen beneran kamu pingin tahu, Punk. Baik, nih aku rekomendasikan film tentang Hilly Kristal yang dikenal sebagai buapaknya Punk. Ia mendirikan CBGB. Ya, satu venue dimana para dedengkot musik punk bermain di sana. Tak kurang, Ramones, Mink Deville, Talking Heads, Tuff Darts, The Shirts, The Heartbreakers, The Fkeshtones, Sex Pistol, The Police, Green Day, serta barisan musisi punk angkatan pertama bermain di sana. Saya kok menduga nama Hillari Kristal akan abadi bersama dengan kata anarchi. Positif! Yang kedua adalah film berjudul Good Vibration. Sebut movie yang berkisah tentang bapaknya musik punk di Belfast, Irlandia Utara. Siapa lagi kalau bukan Terry Hooley. Woooh, beliau sangat berwibawa, murah senyum dan prinsipnya itu lhoh, sangat punk habis mesti tidak berambut skinhead. Ku yakin jika sampeyan menonton film-film tersebut, pendapat sampeyan tentang Punk bisa berubah!” jawabku dengan semangat

“Oalah, begitu ta, Mas, lha emange selain DIY, prinsip-prinsip punk itu apa sih, dan bukanya sampeyan itu aliran balada, ta, hakok ngerti punk beserta pilosopinya?” kata punki dengan dua mata penuh binar

“Haha, tonton saja filmnya dulu, ntar kita berdiskusi lagi! Tapi cluenya adalah Do it youself, berbagi dan berkreasi. Walaupun sampeyan tidak punk pun sampeyan termasuk punk jika melakukan itu tadi, hahaa, dan dengarkan saja lagu berjudul Laugh at me milik Sonny Bono, lagu balada yang menjadi lagu klasik kaum punk tua! Kataku sok bijaksana

Wualuahh!

Kembang Setaman 28/4/2017

Roda Gerilya di Rumah Sang Pendiri Kuncup Mekar

Tepat jam 19.00 WIK, personil SwaTantu yang kembali bergas -setelah buka puasa di rumah Wak Widayat- mulai berdiri. Segera, dengan komando tuwaga dari Farid Cah Kudus -pimpinan Swatantu- kami bergegas menuju kediaman Pak Aryo Gunawan. Sejumlah peralatan gerilya telah dipersiapkan ditata.  Gitar akustik, elektrik, bass, jimbe, floor tom serta backsound kecil-kecilan  menjadi teman setia dalam bergerilya. Ngengggg…..cuitttts, melajulah roda, bergeraklah langkah gerilya..

Ya, di rumah itu, rumah yang mempunyai seribu kenang kegiatan, masih berdiri dengan kokoh.  bentuk frekuensi abadi di tiang-tiang bercat coklat seolah berputar kembali. Pembuatan naskah teater, latihan membuat puisi, cara baca puisi, monolog, musik, serta beragam tema diskusi. Ah…

“Masuk!”  suara berat itu tiba-tiba mengalun di antara kesunyian. Lalu, kami semua menyalami beliau yang tampak jauh lebih sehat dibanding pertemuan terakhir sekitar enam bulan lalu. Badannya yang semula kurus kering mulai kembali ke warna kuning. Kilat mata dan praupan bersih masih ada di sana. “Ya…ya, silakan ditata dimana saja, mas, Pakai saja apa-apa yang hendak dipakai! Kata beliau dengan bariton suaranya.

“Inggih, siap, mas Aryo!” jawab sang komandan SwaTantu. Dengan sigap kami mulai menyeting tempat dengan menggunakan kursi dan meja. Warih Bayoung Wewe pun mengeluarkan piranti lampunya yang semakin hari makin aduhai. Acik, Kenyol, saya, Rizal dan Yanu mengambil perlatan gerilya, sementara Sang Komandan berdiri mengamati tiap inchi untuk mengambil sisi posisi. Kurang dari tigapuluh menit, jadilah panggung gerilya.

13487857_120300000019881123_1567502292_n

“Ahhaiii, Cak Pete, selamat datang!” tiba-tiba Farid Cah Kudus setengah berteriak menyambut kedatangannya, maklum saja Cak Pete merupakan sosok sahabat sekaligus tukang setting andalan para seniman Utara. Tak lama kemudian, datang pula Leo Katarsis, seniman eksentrik yang senantiasa energik. Juntai rambut gondrong setengah dikuncir, melambai-lambai bak gurunya Jacky Chan di film Drunken Master. “Rupanya kalian sudah siap untuk bergerilya ya? bagus aku suka akan semangat kalian!” kata Leo menyemangati kami!

Dan segera ku pamit pulang sebentar untuk menjemput sang biduan. Maka, berputarlah roda-roda, melangkahlah langkah gerilya dalam tantu…tantu Sisyphus…

 

Persiapan Roda Gerilya Ke-3

Teman-teman SwaTantu baru-baru ini sedang mempersiapkan Roda Gerilya ke-3 dengan tujuan rumah. Ya, rumah-rumah seniman dan budayawan yang terbukti telah banyak melahirkan karya-karya serta seniman-seniman sebagai pemegang tongkat estafet pekerja seni berikutnya.

Ada beberapa target yang dikehendaki, didiskusikan serta dikomunikasikan, yakni rumah Pak Aryo Gunawan. Beliau adalah budayawan  yang tangguh yang banyak melahirkan karya seni serta seniman-seniman muda lewat prinsip cancut tali wanda bersama Teater Kuncup Mekarnya..

So, dont miss it

20160620_125753

Amor Fati, Tantu Sisyphus

Bukan Panggung Besar yang Kami Cari

Boleh jadi, sampeyan masih mengangankan panggung besar, tata dan sorot lampu yang menawan, dengan penonton berjubel menyambutkan. Sementara suara Master of Ceremony didukung sound system dengan suara membahana membelah malam yang terang benderang?

Tapi bagi kami, itu bukan pencarian lagi..

sebab titik pijak utawa adalah karya dengan balut rasa kekeluargaan yang tanpa motif. Semata karena cinta, semata karena buah hati yang bernama karya. Senang karena senang, bukan tendensi tiga tahun atau sepuluh tahun nantinya. Sebab, sebuah masa adalah masa, rahasia tetaplah rahasia.

Dan, hidup akan lebih indah dengan ruah makna hidup sebenarnya bukan?

DSC_0063

SwaTantu

So, silakan bangga dengan panggung besar yang terjadinya nantinya, dan kami tahu itu bisa jadi membanggakanmu. Tapi maaf, untuk kami, ruah makna dan karya adalah ukuran sebenarnya….