Jaturampe

SwaTantu: Roda Gerilya (Rahtawu)

Ada sebuah tarikan ghaib yang membuat kami membuat lagu tentangnya. Meski tentu saja ada sedikit rasa takut dalam membuat. Ya, sebuah gunung yang berada di sebelah Utara Kota Kudus itu memiliki magi, aura serta misteri yang kuat Rahtawu, demikianlah nama gunung Purba tersebut.

Dengan ketinggian sekitar 1.627 m dari permukaan laut, Rahtawu begitu memesona.  Puncak Songolikur. Jongring Saloka, beberapa petilasan diyakini dahulu memang benar-benar merupakan tempat bertapanya ‘Para resi’yang sering disebut penduduk sebagai sebutan Eyang.

Jelas ini tidak gemen-gemen, mengingat dan menimbang peta Kudus sendiri (jika terpisah dari kota lain) merupa dalam bentuk Semar bukan? Namun disitulah kami merasa perlu untuk mengabarkan sesuai dengan penangkapan kami.

Rahtawu, tempat berkumpulnya para Atma

yang merupa dalam dewa

Hayu hayu Rahtawu

Tawu tawu, Rahayu

Hayu hayuning buwana

Sluman slumun slamet

Luput nir sambikala

 

SwaTantu: Roda Gerilya (Detak Warung Jetak)

Seringkali ada banyak kejujuran justeru didapatkan di sebuah warung-warung kecil, gumaman maupun celotehan yang berkembang baik isu lokal maupun internasional, yang alami dan berkembang tanpa direkayasa. Warung sederhana yang berisi lima enam warga desa yang lugu.

Namun, percakapan di dalamnya acapkali tak dapat sangka. Percakapan kelas pinggiran namun mampu menanggapi persoalan-persoalan hidup. Bahasa yang digunakan pun mudah dipahami, serta mampu menyentuh dasar bumi hingga langit sekalipun.

Lagu ini terinspirasi secara tidakk sengaja ketika beberapa personil SwaTantu ngopi di daerah kulon kota Kudus. Tepatnya di daerah Jetak.

Di warung kopi inilah asal mula lagu Detak Warung Jetak.

SwaTantu: Roda Gerilya (Rindu Perawan pada Kaum Nelayan)

Lagu ini menceritakan tentang dialog maya antara Sang Perawan dengan Sang Nelayan. Si Perawan adalah wanita yang senantiasa tekun, sabar untuk menunggu kepulangan pujaannya meski muncul pula keragu-raguan yang hinggap. Jangan-jangan pujaannya ini lupa jalan pulang, jangan-jangan pujaannya ini nyangkut di kediaman janda  tetangga…ah, di ujung rembang petang, mbak nasib datang menyergap insan.

Sementara di belahan bumi lain, Nelayan yang menjadi pujaan Si Gadis, tengah bergulat dengan puluhan ombak menghadang. Ombak-ombak derita, ombak-ombak nestapa. Bergulung-gulung makin membesar…

Dan, sesaat sebelum ombak itu surut, sesaat sebelum malam datang, bayang perawan itu menjadi ibu, ya, pertiwi yang senantiasa membayang, menungggui kemudi..

Jalesveva Jayamahe

Jalesveva Jayamahe

SwaTantu: Roda Gerilya (Mangata)

Mangata merupakan definisi dari kata yang kurang lebih berarti bayangan bulan di air yang berbentuk seperti jalan. Satu fenomena alam yang indah bukan?Cahaya dari Sang Penerang malam yang terpantulkan lewat air. Ah, seperti sebuah masa gelap yang berkarat, gelap kesumat, gelap dalam pekat dapat penerangan sinarkan?

Sampeyan pernah mengalami masa seperti ini, Lik? Masa dimana apapun norma, macam pelajaran hingga senandung kebenaran menjadi hal yang hilang entah kemana, tatkala kebuntuan datang menyergap. Sangsi tak tahu kemana lagi? Terjebak di dunia entah, terkapar di kedalaman gua berantah?

Andai pun sampeyan melakukan hal-hal lugu seperti dalam buku panduan hidup yang harus sopan, santun,tapi malah tak diindahkan? Acapkali malah terinjak-injak? Lalu, kitapun kembali melihat buku panduan hidup, “Bagaimana hidup yang baik itu, bagaimana harmoni itu ya, bagaimana kebahagian itu di dapat ?” namun panduan tetap sama. Hitam atau putih. Surga atau neraka? Masuk atau keluar? dan belum jua puas?

Seperti kata Albert CamusManusia absurd di tengah dunia yang memang absurd– Goda itu akhirnya datang jua. Mula-mula, kering, sedikit basah, makin lama makin membasah. Suara-suara itu “Hei ayo, kamu bukan yang pertama kok,  yang melakukan ini banyak loh, ah, masak hanya segini sih, ayo ambil saja, tak ada yang tahu lho, ayolah kawan! Ah, toh bukan kamu yang melakukannya? Suara merayu penuh jebakan, bukan?

Namun, tetap saja ada yang datang menyergap. Bayangan bulan dalam yang merupa sebuah jalan, suara-suara itu “Sugih tanpa bandha, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake!” sesanti dari Sang Mandhor Klungsu -RMP Sasra Kartono-

Untuk mengabadikan petuah RMP Sasra Kartono hingga betapa bermaknanya penemuannya tersebut, kami menciptakan lagu yang berjudul Mangata

SwaTantu: Roda Gerilya (Ruwat)

Apa kabar, petani-petani? baik-baik saja to?

(koor) Petani…petani bergerak, Petani petani merangsak, merangkak, merangsak merangkak berteman ternak dan batu bata..

Sebagai salah satu warisan budaya Jawa, -ruwat sampai sekarang masih lestari meskipun bolong-bolong, meski kosong-kosong. Yup, semula ruwat berkembang dalam cerita dimana intisari dari hal tersebut adalah masalah penyucian. Dalam beberapa agama, ada tradisi ini ya, lewat berbagai cara dan maknanya. Ruwat sering diartikan sebagai upaya untuk mengatasi dan menghindarkan kesulitan (batin) yang mungkin akan diterima seseorang di dalam mengarungi hidup. Di Jawa sendiri Ruwatan diiringi dengan pertunjukan wayang kulit yang mengambil lakon tertentu.

Tapi, apa dan siapa yang butuh diruwat?

Jika, bukan petani yang akan diruwat, barangkali kitalah yang butuh diruwat!

(koor) Petani…petani bergerak, Petani petani merangsak, merangkak, merangsak merangkak berteman ternak dan batu bata..

Swara air, mata rahasia

SwaTantu: Roda Gerilya (Perampok Alam)

Sebagai lagu ke-2, kami akan membawakan lagu berjudul Perampok Alam. Dan, berikut sinopsis dari lagu kami tersebut.

Dimasa postmodernism ini adakah alam yang dirampok? Alam Siapa? Alam yang mana? Barangkali jika kita masih berpijak atas dasar kepentingan manusia, tidak ada satu alam yang dirampas, tapi jika sejenak kita mengubah diri menjadi sekumpulan burung atau monyet, nyatalah banyak hal dari alam yang jelas kita rampok. Hutan hancur, hutan hilang, hutan pun musnah. monyet-monyet  dimana rumahnya? Monyet-monyet hilang habitatnya! Burung-burung mana nyanyiannya? Burung-burung tinggal cerita! Monyet tenan, bukan?

Tapi, masak kita perlu mengubah diri jadi monyet dan burung, sehingga tahu bahwa tindak perampokan alam? Apapun itu: Monyet!

 

SwaTantu: Roda Gerilya (Tantu Sisyphus)

Dengan bekal rahmat Tuhan serta semangat Sisyphus, kami membawakan tujuh buah lagu. berikut adalah sinopsis lagu-lagu yang akan kami bawakan dalam -Roda Gerilya -SwaTantu:

  1. Tantu Sisyphus: 

Kami memulai menulis lagu ini justeru berasal dari kata yakni Tantu.  Entahlah,  seperti ada daya, satu tarikan purba yang menghipnotis kami untuk memasukkan kata ini baik ke nama kelompok maupun ke dalam judul lagu. Tantu pertama kali kami kenal ketika masih kecil. Seperti ada suara yang kadang muncul, kadang tenggelam, kali kedua, kami jumpai  kata tantu di Serat Tantu Pagelaran sebuah kitab kuna yang disebut di buku karya Prof. Zoelmulder dalam kitab berjudul Kalangwan, yang menceritakan tentang Batara Guru (Shiwa) yang memerintahkan dewa Brahma dan Wishnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Jawa saat itu masih mengambang di lautan luas, terombang-ambing, dan senantiasa berguncang, kemudian para dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan pucuk Gunung Mahameru di India ke atas Pulau Jawa Yang kedua adalah  kata Tantu adalah kata Tangtu (Tri Tanggu) bagi masyarakat sunda, yang berdefinisi dengan kata ikatan. Tri Tangtu merupakan tiga ketentuan di dunia yang disebut sebagi peneguh dunia. yakni Rama, iswara(swara), budi.Sedang  Sisyphus adalah tokoh dalam mitologi Yunani Kuno. Kami tertarik mengangkat Sisyphus tersebut ke dalam lagu –seperti juga seniman-seniman lainnya yakni sebab kegigihan, perjuangan untuk bangkitnya tersebut. Dalam satu pandangan filosof dikatakan bahwa, Pencarian Sisyphus menjadi sebuah pekerjaan yang sia-sia, pencarian kekosongan Tapi lagi Kami lebih bersepakat pada Albert Camus, bahwa proses pencarian diri, pencarian hidup atau entah pencarian apapun itu ya berawal dari jatuh-bangkit, jatuh-bangkit, bangkit-jatuh, lagi dan lagi. Bentuk perjuangan, isi kegigihan dan kemandirian.

Sekali lagi ini bukan karena kekerdilan kami dalam menghadapi tantangan hidup, tapi setidaknya Sisyphus menjadi tokoh yang paling nyata dalam kehidupan ini. Maka, Kami mengombinasikan dua konsep filsafat Jawa dan Yunani ke dalam bentuk lagu dimana disini kami artikan sebagai sebagai sebuah rasa berbagi, rasa bergotong-royong. Panta Rhei, senantiasa baru dan senantiasa mengalir.479447604

Pada sebuah tangga hidup, mana lagi hal yang pantas dibanggakan selain perjuangan?

Foto diambil dari: http://www.gettyimages.com/detail/illustration/vector-pushing-a-ginat-rock-uphill-royalty-free-illustration/479447604